Makna Tahun Baru Imlek
BESOK, Minggu (14/2/2010), warga keturunan Tionghoa merayakan Imlek. Sering disebut Tahun Baru Cina. Imlek merupakan perayaan terpenting warga Tionghoa. Imlek sudah menjadi tradisi yang mendarah daging, sekali pun orang Tionghoa tersebar di seantero dunia jauh dari tanah leluhurnya di Cina, termasuk yang sudah lama menjadi warga di Indonesia.
Perayaan Imlek sebenarnya adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani, biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi.
Biasanya dirayakan dengan sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta. Tujuannya adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Dalam perjalanan waktu, Imlek juga dirayakan oleh masyarakat yang bukan dari golongan petani.
Selain itu, ada beberapa tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan oleh kalangan etnis Tionghoa dalam merayakan Imlek. Tradisi-tradisi itu, di antaranya, hidangan Imlek, membakar petasan, saling mengunjungi dan memberi hormat serta tidak ketinggalan adalah angpao. Makanan yang khas pada Tahun Baru Imlek adalah kue keranjang atau disebut juga kue cina dan ikan bandeng. Biasanya, kue keranjang itu dikirimkan kepada kerabat, sahabat dan relasi. Sementara, ikan bandeng digunakan untuk persembahan sembahyang.
Tepat pada Hari Raya Imlek, biasanya semua orang berpakaian baru dan rapi. Hal ini layaknya hari-hari besar lain. Anak-anak dan orang-orang yang lebih muda memberi hormat kepada orang-orang tua. Setelah itu orang-orang tua memberikan angpao. Angpao adalah amplop berwarna merah berisi uang. Ada pula yang memanggil barongsai tanda mengundang rezeki dan menolak bala.
Perayaan Imlek memiliki makna spiritual yang amat kaya, bahkan mampu berperan dalam menyatukan mereka dalam semangat hidup yang sama. Pesan dari perayaan imlek yang pantas dikedepankan adalah, kasih sebagai faktor pemersatu kehidupan. Imlek memperlihatkan pengalaman perjumpaan para petani dengan realitas kehidupan yang ada di sekitarnya. Bagi petani, realitas di dunia ini disatukan, disemangati, ditumbuhkan oleh kasih. Nilai-nilai ini hendaknya ditumbuhkembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Hendaknya ditularkan dalam kehidupan bermasyarakat, tidak saja dalam hubungan antar etnis Tionghoa, tetapi juga dengan warga masyarakat pada umumnya. Sebaliknya, warga lokal juga harus bisa menghargai warga Tionghoa, dalam segala aspek kehidupan dan pelayanan.
Lebih dari itu, nuansa Tahun Baru Imlek ini bisa digunakan sebagai waktu untuk merenung. Momentum untuk merefleksikan apa yang sudah dibuat untuk masyarakat. Pada kesempatan ini juga, kita mengharapkan warga etnis Tionghoa untuk terlibat bersama pemerintah dalam membangun daerah. Kita tau bahwa etnis Tionghoa umumnya adalah pengusaha (kontraktor) dan pedagang. Mereka dapat dikatakan sebagai penggerak ekonomi di daerah. Sehingga, jujur harus kita akui bahwa kemajuan daerah ini tidak bisa dilepaspisahkan dari peran warga Tionghoa. Peran yang sudah ada ini dipertahankan dan perlu ditingkatkan agar daerah ini semakin maju.
Kita juga mengharapkan, adanya kesadaran warga etnis Tionghoa untuk membimbing dan menuntun warga lokal dalam berusaha. Jiwa kewirausahaan warga lokal sudah ada, hal ini ditandai dengan semakin banyak warga berusaha meski dalam skala mikro, kecil dan menengah. Nah, usaha yang sudah dirintis ini perlu dituntun agar bisa tumbuh pengusaha lokal yang sukses. Dengan begitu bisa meminimalisir kesenjangan antar warga antara etnis Tionghoa dengan warga lokal. Selamat merayakan Imlek. *